0 item in the bag

No products in the cart.

Diskon khusus untuk setiap pembelian dalam jumlah banyak!

Sejarah Kaos Polo

SEJARAH KAOS POLO – Sejarah polo shirt berasal dari penemuan baju tenis dengan kerah dan placket berkancing. Kaos wangki merupakan istilah yang sering digunakan untuk baju polo shirt tersebut. Walaupun baju tersebut memiliki nama Polo, akan tetapi sejarah polo shirt pertama kali muncul dalam olahraga tenis.

Pengertian Polo shirt adalah bentuk kaos dengan kerah, memiliki placket dengan dua atau tiga kancing dan saku di dada kiri sebagai opsi tambahan. Ketiga istilah tersebut merupakan ciri khas yang dapat digunakan untuk menggambarkan pengertian dari kaos polo shirt. Pada umumnya kaos polo shirt dikenal sebagai baju golf dan tenis.

Polo shirt biasanya terbuat dari kain rajutan (bukan kain tenun), biasanya katun Pique.

Sejarah Polo Shirt

Sejarah Polo Shirt sebenarnya dimulai dalam olahraga tenis, yang diperkenalkan oleh seorang pemain tenis profesional. Walaupun nama baju tersebut disebut dengan polo, namun sebenarnya sejarah polo shirt ini bermula dari cabang olahraga tenis.

Pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, pemain tenis umumnya mengenakan baju tenis berwarna putih yang terdiri dari kaos putih berlengan panjang dengan kancing di bagian atasnya (dikenakan dengan bagian lengan digulung), celana flanel dan dasi. Pakaian ini menimbulkan masalah dari segi kemudahan bermain dan kenyamanan.

Juara tenis asal Perancis yang meraih tujuh kali Grand Slam, René Lacoste, merasakan bahwa kekakuan pakaian tenis sangat tidak praktis dan tidak nyaman. Dia merancang kaos putih lengan pendek berbahan katun pique rajut yang lentur (jersey petit pique) dengan kerah yang menjulur, tidak kaku, placket berkancing dan ujung baju bagian belakang lebih panjang daripada depan (sekarang dikenal dengan istilah “tennis tail”).

Sebelum tahun 1933, pemain polo mengenakan kaos tebal berlengan panjang yang terbuat dari kain katun Oxford. Kaos ini merupakan yang pertama memiliki kerah berkancing, dimana pemain polo menemukannya pada akhir abad ke-19 untuk menjaga kerah terkibas angin.

Hal ini disadari oleh John Brooks (presiden pertama Brooks Brother’s) ketika pertandingan Polo di Inggris dan mulai memproduksi kaos tersebut pada Tahun 1896. Brooks Brothers masih memproduksi polo shirt bergaya kerah berkancing sampai sekarang. Akan tetapi seperti pakaian tenis pada awalnya, pakaian ini pun menghadirkan ketidak-nyamanan di lapangan. Ketika pemain polo menyadari penemuan dari Lacoste pada Tahun 1930-an, mereka segera mengadopsinya untuk digunakan dalam olahraga Polo.

Pada tahun 1920, Lewis Lacey (orang Kanada yang lahir dari orang tua berkebangsaan Inggris di Montreal, Quebec pada tahun 1887), seorang penjual pakaian dan pemain polo, mulai memproduksi pakaian dengan bordir logo pemain polo. Desain tersebut berasal dari Hurlingham Polo Club dekat Buenos Aires.

Selama paruh kedua abad ke-20, sebagaimana pakaian standar dalam golf menjadi lebih kasual, baju tenis diadopsi seluruhnya sebagai standar pakaian golf. Banyak pelatihan golf dan country club mengharuskan pemain untuk memakai baju golf sebagai dress code nya. Selain itu, produksi baju tenis Lacoste dalam berbagai potongan untuk golf, menghasilkan desain spesifik baju tenis yang menjadi ciri khas untuk baju golf.

Baju golf biasanya terbuat dari bahan polyester, katun dan campuran polyester, atau katun mercerized. Biasanya memiliki placket dengan tiga atau empat kancing yang lebih rendah memanjang dibandingkan bagian leher pada umumnya baju polo. Kerahnya biasanya dibuat dengan jahitan double-layer menggunakan kain yang sama untuk membuat baju. Berbeda dengan kerah baju polo, yang biasanya merupakan katun rajutan bergaris satu-lapis. Baju golf sering memiliki saku di sisi dada kiri, untuk menyimpan scorepad dan pensil dan biasanya tidak terdapat logo.

 

Sejarah Perkembangan Polo Shirt

Istilah Polo Shirt, pada awalnya mengacu hanya kepada kaos lengan panjang berkancing yang biasanya digunakan dalam permainan polo. Kemudian menjadi ciri khas umum kaos tenis sebelum tahun 1950-an dan digunakan umum di Amerika untuk menggambarkan kaos yang sering digunakan sebagai perlengkapan formal pakaian tenis. Pemain tenis sering merujuk baju mereka sebagai “Polo Shirt”, walaupun pada kenyataannya, telah digunakan terlebih dahulu dalam olahraga mereka sebelum olahraga polo.

Sejarah Polo Shirt Lacoste

Kaos ini pertama kali dikenakan di Kejuaraan Terbuka Amerika Serikat pada Tahun 1926. Awal Tahun 1927, René Lacoste menaruh logo buaya di dada kiri kaos tersebut, sebagaimana Media Massa Amerika telah memanggilnya “The Crocodile”, sebagai sebutan yang disandangnya.

Desain Lacoste memecahkan masalah yang dimiliki pakaian tenis tradisional.
• Lengan pendek memecahkan kecenderungan lengan panjang untuk digulung,
• Kerah yang lembut bisa dilonggarkan dengan mudah dengan membuka kancing pada placket,
• Kerah Pique bisa diberdirikan untuk melindungi leher dari sinar matahari,
• Katun pique rajut jersey berongga dan lebih tahan lama,
• “Tennis tail” mencegah kaos keluar dari celna panjang ataupun pendek.

Pada tahun 1933, Lacoste setelah pensiun dari tenis profesional bekerja sama dengan André Gillier (seorang teman yang memiliki merchandiser pakaian) untuk memasarkan kaos tersebut di Eropa dan Amerika Utara. Mereka bersama-sama membentuk perusahaan Chemise Lacoste dan mulai menjual kaos mereka secara massal, termasuk yang memiliki bordir logo kecil bergambar buaya di dada sebelah kirinya.

 

Sejarah Polo Shirt Ralp Lauren

Pada tahun 1972, Ralph Lauren melibatkan “polo Shirt” nya sebagai bagian penting dari katalog orisinilnya yang disebut “polo” sehingga ikut membantu memajukan yang sebelumnya sudah memiliki popularitas secara luas. Walaupun tidak secara spesifik digunakan untuk dikenakan oleh pemain polo, ketika itu kaos Ralp Lauren meniru pakaian normal pemain polo. Ralp Lauren berkeinginan untuk menonjolkan istilah “WASPishness” tertentu dalam pakaiannya, yang awal mulanya mengadopsi gaya pembuat pakaian, seperti Brooks Brothers, J. Press dan “Savile Row” yang merupakan gaya toko pakaian Inggris.

Ralp Lauren secara gamblang memasukkan pakaian ini ke “sport of kings” dalam katalognya, dipenuhi dengan logo berkenaan dengan lambang buaya Lacoste, yang menggambarkan seorang pemain polo dan kuda. Hal ini bekerja sangat baik sebagai alat pemasaran, untuk selanjutnya, karena besarnya popularitas Ralp Lauren, mayoritas Barat yang berbahasa Inggris mulai menyebut baju tenis Lacoste sebagai “polo shirt”. Namun baju tenis menjadi istilah yang tetap untuk semua penggunaan desain dasar Lacoste ini sampai dengan sekarang.

 


 

Tags: ,

Pin It on Pinterest

Shares
Share This